Tampilkan postingan dengan label Kemdikbud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemdikbud. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Oktober 2012

Kurikulum Baru, Hanya 7 Mata Pelajaran untuk SD

 
 JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud) Suyanto menyampaikan rencananya untuk menyederhanakan jumlah mata pelajaran di tingkat sekolah dasar (SD). Dari rata-rata SD saat ini yang memiliki 11 mata pelajaran, tahun depan akan disederhanakan menjadi sekitar tujuh mata pelajaran.

"Disederhanakan menjadi tujuh pelajaran dan supaya pola pikirnya sesuai usia anak-anak," kata Suyanto saat ditemui di gedung Kemdikbud, Jakarta, Senin (1/10/2012).

Dia menegaskan, jumlah mata pelajaran di SD akan disederhanakan, tetapi muatannya lebih mendalam, khususnya dengan materi yang dapat mengembangkan sikap peserta didik. Hal tersebut berbeda dengan kondisi kurikulum saat ini yang memiliki cakupan terlalu luas, tetapi dengan materi yang tidak dalam.

"Nanti akan sederhana, tetapi dalam. Kalau sekarang cakupannya luas, tetapi dangkal," ujar Suyanto.

Peleburan mata pelajaran seperti IPA dan IPS, lanjutnya, masih dalam diskusi panjang. Pasalnya, perdebatan perlu atau tidaknya pemisahan kedua mata pelajaran ini masih mengemuka.

"IPA dan IPS mungkin namanya akan menjadi pengetahuan umum, tapi belum final dan masih digodok. Yang jelas IPA dan IPS sangat jadi perhatian. Mungkin general dulu, makin naik makin mengerucut," ungkapnya.

Ditemui di lokasi yang sama, Direktur Pembinaan SD Ditjen Dikdas Kemdikbud Ibrahim Bafadal menyampaikan hal senada. Menurutnya, kemungkinan jumlah mata pelajaran di SD disederhanakan sangatlah besar. Akan tetapi, semuanya harus condong pada materi yang dapat mengembangkan sikap peserta didiknya.

"Bisa disederhanakan jumlahnya. Yang sudah tidak bisa ditawar itu Pendidikan Agama, PPKN, Bahasa Indonesia, dan Matematika," pungkasnya.

Evaluasi dan perombakan kurikulum pendidikan nasional terus mengemuka. Meski belum final, beberapa wacana sudah dilontarkan oleh Kemdikbud. Nantinya, peserta didik di SD akan diprioritaskan memperoleh mata pelajaran yang dapat membentuk sikap, sementara siswa SMP diarahkan pada keterampilan, dan peserta didik di SMA dipenuhi dengan mata pelajaran yang mampu membangun pengetahuan.

Kurikulum baru ini akan mulai disosialisasikan dan diuji publik sebelum Februari 2013, dan mulai berlaku pada tahun ajaran 2013-2014.

Sumber: edukasi.kompas.com

Senin, 01 Oktober 2012

Pelatihan Guru Harus Bervariasi dan Sentuh Pendidikan Karakter


Jakarta --- Meningkatkan kualitas pembelajaran memerlukan perubahan, dan perubahan memerlukan pembiasaan. Pembiasaan tersebut bisa dimulai dari proses pendidikan atau pelatihan guru. Karena itu diperlukan proses pelatihan yang dapat “memaksa” guru secara bawah sadar untuk melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang inovatif menuju ke pembelajaran yang bermakna. Prinsip pelatihan guru yang baik di antaranya adalah fokus pada praktik, dan tujuan pelatihan yang jelas (apa yang ingin dicapai berdasarkan kebutuhan yang teridentifikasi).
Demikian yang terungkap di hari ke-3 Seminar Nasional bertema “Cakrawala Pembelajaran Berkualitas di Indonesia”, yang berlangsung di Hotel Menara Peninsula, Jakarta. Seminar yang diikuti peserta dari berbagai institusi pendidikan dan berbagai wilayah di tanah air ini mengupas berbagai subtema untuk melakukan inovasi did alma proses pembelajaran.
Abdur Rahman As’ari, salah satu pembicara utama dalam seminar tersebut mengatakan, selain fokus pada praktik dan memiliki tujuan yang jelas, pelatihan guru juga harus bisa mendorong analisis krisis (dengan berkaca dan praktik), serta memiliki dukungan dan pemahaman para manajer (kepala sekolah, pengawas, komite sekolah). Salah satunya hal yang diharapkan bisa tercapai dalam pelatihan adalah meningkatnya kemampuan guru untuk merancang tugas yang variatif dan menantang untuk peserta didik.
“Seorang guru harus bisa memberi tugas yang menantang dan usefull bagi siswanya. Kalau hanya berupa tugas rutin, siswa bisa boring. Jika tugas bisa disesuaikan dengan minat anak, ketertarikannya, apa yang dicita-citakannya, anak akan tekun. Kemampuan guru untuk memberikan assignment yang bervariasi  itu lah yang diperlukan,” ujar dosen yang juga menjadi konsultan USAID itu, saat diwawancarai usai presentasi makalahnya, (27/9).
As’ari juga mengatakan, jika tugas yang diberikan guru terlalu mudah, dan anak-anak tidak perlu mengerahkan tenaga dan pikiran untuk mengerjakannya, mereka akan memiliki waktu yang lebih longgar. “Sehingga dengan sendirinya, sekali kena gesekan dari luar, bisa menimbulkan rasa lebih bangga, muncul keinginan eksistensi diri dan aktualisasi,” katanya mengomentari kasus tawuran pelajar yang terjadi pada minggu ini.
Ia mengakui, masalah tawuran sebagai bagian dari masalah pendidikan karakter bukan hal yang sederhana. “Di dalam proses pembelajaran sebenarnya bisa sekalian membangun karakter,” jelasnya. Karena itu, As’ari mengatakan, pelatihan-pelatihan untuk guru diharapkan tidak hanya sebatas membuat kurikulum atau RPP (Rancangan Peraturan Pemerintah), tetapi juga bisa melatih kepekaan seorang guru dalam proses pembelajaran untuk melihat karakter apa yang bisa dikembangkan dari siswanya secara positif. Menurutnya, pelatihan tersebut bisa diselenggarakan oleh pemerintah (Kemdikbud), maupun pihak swasta melalui kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility). (DM)

Rabu, 12 September 2012

Anggaran Pendidikan Dasar Turun

 
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi X DPR menyayangkan rencana alokasi anggaran untuk pendidikan dasar yang turun dari Rp 17,7 triliun menjadi Rp 11,4 triliun. DPR mempertanyakan hal ini karena wajib belajar sembilan tahun belum tuntas dan masih ada 158 kabupaten/kota yang angka partisipasi murni sekolah dasarnya di bawah 95 persen.

Hal itu mengemuka dalam rapat kerja Komisi X DPR dengan jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang dipimpin Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Senin (10/9), di Jakarta.

”Wajib belajar sembilan tahun belum selesai, tapi kok rencana alokasi anggaran untuk pendidikan dasar turun?” tanya anggota Komisi X, Rinto Subekti.

Menanggapi desakan itu, pemerintah tetap akan melanjutkan program-program percepatan penuntasan wajib belajar sembilan tahun.

Untuk mempercepat penuntasan wajib belajar sembilan tahun, lanjut Nuh, pemerintah akan melanjutkan pemberian bantuan bagi siswa miskin.

Anggota Komisi X, Reni Marlinawati, mengingatkan, pendidikan menengah universal hanya akan berhasil jika partisipasi siswa di jenjang pendidikan dasar sudah mencapai 100 persen. Untuk itu, akan lebih bijaksana apabila pemerintah fokus menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun sebelum menggenjot partisipasi pendidikan menengah.

Dalam rapat kerja itu juga dibahas perencanaan alokasi anggaran fungsi pendidikan di Kemdikbud hasil pembahasan Komite Pendidikan dengan nilai Rp 70,4 triliun. Sebelumnya, dalam nota keuangan yang dibacakan Presiden, anggaran fungsi pendidikan yang dikelola Kemdikbud sebesar Rp 66 triliun.

edukasi.kompas.com

Senin, 10 September 2012

Pencegahan Kekurangan Guru Dimulai Sejak Dini

Pacitan --- Dunia pendidikan memiliki empat pilar penting yang mendukung prosesnya. Guru, siswa, sarana dan prasarana, serta kurikulum, adalah keempat pilar yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.
Untuk urusan guru di Pacitan, misalnya, menurut Bupati Pacitan Indartato, pada 2014 diperkirakan akan mengalami kekurangan 1.125 orang guru. Dari jumlah tersebut, kebutuhan paling banyak adalah kebutuhan guru SD. Kekurangan tersebut selain karena banyaknya guru yang pensiun, juga karena kurangnya guru yang mampu mengampu mata pelajaran.
“Kalau dihitung, jumlah guru di Pacitan ada 9.001 guru. Yang berstatus PNS baru 60 persen,” katanya saat memberi laporan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, sebelum peletakan batu pertama pembangunan Akademi Komunitas di Pacitan, Minggu (9/9).
Menyikapi hal tersebut, Mendikbud mengajak semua pihak untuk berpikir dan berperan dalam mencari solusi. Jika ada kekurangan, kata Menteri Nuh, maka sudah selayaknya ditambah dengan tidak mengabaikan standar kualitas. Bukan malah mempermasalahkan masalah tersebut. Dan salah satu upaya pemerintah untuk menjawab persoalan kualitas guru, adalah dengan melakukan pemetaan melalui Uji Kompetensi Guru (UKG).
UKG merupakan instrumen pemetaan yang akan digunakan untuk melihat dimana kelemahan kompetensi para guru yang ada saat ini, sehingga bisa diperbaiki dengan tepat. “Ibarat sumur, yang kita ukur itu kedalamannya, kualitas airnya. Dan yang kedua yang kita ukur adalah kemampuan pompa untuk menyalurkan air sumur tersebut,” jelas mantan Rektor ITS ini.
Jika sumur disamakan dengan kompetensi guru, maka pompa adalah kemampuan pedagogiknya. Keduanya harus sama-sama berkualitas baik, untuk mencapai pendidikan yang berkualitas. Dengan alasan tersebut, hendaknya para guru berlomba untuk memeriksakan kompetensinya. Agar secepat mungkin bisa diberikan solusinya. Apalagi UKG ini sama sekali tidak berkaitan dengan tunjangan profesi.
“Kalau siswanya saja setiap hari dites untuk melihat sejauh mana kemampuannya, gurupun demikian,” katanya. Selain UKG, pemerintah juga menyiapkan beberapa skenario lain untuk menambah jumlah guru yang berkualitas. Salah satunya adalah dengan mengasramakan calon guru, untuk dididik dan dilatih agar mampu menyandang profesi guru. Selain itu, calon guru tersebut juga disiapkan untuk mengampu dua mata pelajaran sekaligus.
“Ada mata pelajaran mayor, dan ada mata pelajaran minor,” katanya. Tujuannya, selain untuk mengatasi kekurangan guru, juga untuk mengatasi kekurangan jam mengajar yang banyak dialami para guru saat ini.

KEMDIKBUD

Rabu, 05 September 2012

Siswa Berprestasi Tak Terpantau

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh berbicara dengan Dani Maitimu, peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2012 asal Ambon, pada pembukaan OSN 2012 di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Senin (3/9). OSN 2012 diikuti 3.102 siswa pilihan dari tiap provinsi, mulai tingkat SD hingga SMA/SMK. Juara OSN akan menjadi wakil Indonesia pada olimpiade sains internasional.
JAKARTA, KOMPAS.com — Olimpiade Sains Nasional yang diikuti siswa SD, SMP, dan SMA sudah berlangsung sejak tahun 2002. Meski demikian, perkembangan pendidikan dan jenjang karier siswa berprestasi yang meraih juara OSN tidak terpantau.

”Kami akan buat sistem untuk track mereka berada di mana sehingga bisa diberi perlakuan khusus untuk pendidikannya,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh seusai membuka ajang tahunan Olimpiade Sains Nasional (OSN) XI/2012, Senin (3/9/2012), di Jakarta.

Pemantauan, kata Nuh, masih ditujukan bagi pemenang olimpiade internasional. Semestinya pemenang olimpiade internasional difasilitasi akses pendidikannya mulai perguruan tinggi negeri hingga jenjang doktor.

”Selama ini sering belum klop karena siswa maunya masuk jurusan A, tetapi kompetensinya di jurusan B,” kata Nuh.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kemdikbud Hamid Muhammad menambahkan, OSN akan terus dilanjutkan, tetapi dievaluasi, terutama untuk menambah siswa yang meraih juara olimpiade internasional. ”Selama ini prestasi Indonesia stagnan,” ujarnya.

Tahun ini OSN diikuti 3.102 peserta tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK. Bidang ilmu yang dilombakan meliputi Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Fisika, Astronomi, Komputer, Biologi, Ekonomi, dan Kebumian. Selain itu, dilombakan pula bidang terapan untuk siswa SMK.

http://edukasi.kompas.com

Senin, 03 September 2012

Olimpiade Sains Nasional, Mengapa Perlu?

 
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh menyampaikan alasan kementerian tetap menggelar dan memperkuat penyelenggaraan Olimpiade Sains Nasional (OSN). Apa alasannya?

"Alasan penting kenapa selalu diadakan dan ditingkatkan dari tahun ke tahun adalah untuk menciptakan atmosfir, membangun budaya dan tradisi yang berbasis ilmu pengetahuan," kata Nuh saat membuka OSN XI di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (3/9/2012).

Melalui OSN, Nuh berharap, kecintaan pada ilmu pengetahuan dapat tertanam dalam jiwa seluruh siswa dan peserta. Menurutnya, kecintaan pada ilmu pengetahuan sangat penting karena menjadi modal utama dalam pembangunan sebuah bangsa.

Bahkan, lanjutnya, amanah itu tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 45 yang secara eksplisit tercantum pada frase "mencerdaskan kehidupan bangsa". Nuh mengatakan, itu hanya bisa diraih jika ilmu pengetahuan melekat di setiap unsur kehidupan masyarakat Indonesia.

"Yakinlah, jika ilmu pengetahuan tak dikuasai, jangan harap bangsa ini bisa cerdas. Inilah aspek strategis mengapa OSN kita pertahankan dan terus kita tingkatkan," tegasnya.

Tahun ini, OSN sudah digelar untuk kesebelas kalinya. OSN XI tahun 2012 diikuti oleh sekitar 3.000 peserta yang berasal dari siswa jenjang SD, SMP, SMA, PKLK, dan guru. Dipusatkan di TMII, penyelenggaraan lomba juga digelar di daerah lain, seperti DI Yogyakarta, Bali, dan Pontianak.

Bidang yang dilombakan juga sangat bervariasi, yakni mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Astronomi, Ilmu Kebumian, Komputer (IT), IPS Terpadu, Ekonomi, dan Manajemen.

Khusus untuk jenjang SMK, diselenggarakan Lomba Debat Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Jepang, dan Bahasa Mandarin yang akan diikuiti sekitar 165 kontestan siswa SMK terbaik dari seluruh Indonesia. Sementara itu, sekitar 264 siswa berkebutuhan khusus untuk jenjang pendidikan dasar dari 33 provinsi di Indonesia juga mengikuti OSN XI yang digelar di Sanur, Bali, 2-5 September 2012.

http://edukasi.kompas.com

Olimpiade Sains Nasional Ajang Kompetisi Siswa dan Guru

Jakarta -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan secara konsisten setiap tahun sejak 2002 menyelenggarakan Olimpiade Sains Nasional (OSN). OSN  diselenggarakan sebagai salah satu bentuk sarana aktualisasi para siswa SD, SMP, SMA, SMK, Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Pendidikan Dasar, PKLK Pendidikan Menengah, dan guru SMP dan SMA dalam menampilkan hasil belajar-mengajar di kelas. Tahun ini pun Kemdikbud kembali menyelenggarakan OSN, yaitu OSN XI. Tema OSN XI yaitu “Membentuk Generasi Emas yang Inovatif, Berbudaya, dan Berdaya Saing”.
OSN XI akan digelar mulai tanggal 2-7 September 2012 di Jakarta. Ajang kompetisi nasional ini akan diikuti sekitar 3000 peserta dari seluruh Indonesia, yang berlomba di bidang mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Astronomi, Ilmu Kebumian, Komputer (IT), IPS Terpadu, Ekonomi dan Manajemen. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh akan membuka perhelatan OSN XI pada Senin, 3 September 2012 di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Selain kegiatan pokok OSN, diselenggarakan juga sejumlah kegiatan pendukung, di antaranya Seminar Nasional Guru dan Wisata Edukasi. Di samping itu, untuk jenjang SMK diselenggarakan Lomba Debat Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Jepang, dan Bahasa Mandarin, yang diikuti sekitar 165 peserta.
Kegiatan OSN untuk jenjang SMP telah dilaksanakan pada 28 Juni s.d. 4 Juli 2012 di Pontianak, Kalimantan Barat. Sedangkan OSN untuk PKLK Dikdas diselenggarakan di Bali pada tanggal 2-6 September 2012. Sementara untuk Olimpiade Sains Terapan (OSTN) SMK akan diselenggarakan pada bulan Oktober di Yogyakarta.
OSN bertujuan untuk menumbuhkembangkan semangat berkompetisi dan tradisi berprestasi baik di tingkat nasional maupun level internasional. Kegiatan OSN kini juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mendorong akselerasi kebangkitan bangsa dalam menyiapkan generasi emas 100 tahun Indonesia merdeka. (***)

http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/609

Sabtu, 01 September 2012

Presiden : Pemerintah Naikkan Tunjangan Para Peneliti

Bandung --  Puncak peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke–17  diselenggarakan di  Gedung  Merdeka, Bandung, Jawa Barat. Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudoyono dan Ibu Negara Ani Yudoyono  hadir bersama  menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II  dan  masyarakat peneliti.  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh juga turut hadir pada peringatan Hakteknas  tersebut. Selain itu hadir juga Menpora Andi A Mallarangeng, Menteri Perhubungan EE Mangindaan, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, dan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono.
Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-17 ini diselenggarakan dalam rangka mewujudkan visi untuk menanamkan kesadaran masyarakat tentang  nilai-nilai strategis  serta  pentingnya peranan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dalam membangun peradaban dan kesejahteraan bangsa. Tema peringatan Hakteknas yang diangkat dalam peringatan tahun ini adalah “Inovasi untuk Kemandirian Bangsa” dengan tujuan  agar penelitian dan pengembangan iptek lebih bertumpu pada kebutuhan riil masyarakat, mencari solusi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mendorong pemenuhan kebutuhan riset yang lebih aplikatif.
Dalam sambutannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan kabar gembira kepada para  peneliti dengan mengatakan bahwa peraturan presiden (perpres) yang mengatur tentang kenaikan tunjangan peneliti telah rampung  sehingga para peneiliti bisa mendapatkan kesejahteraan yang lebih tinggi.  "Mudah-mudahan Minggu ini sudah bisa diteken," ujar presiden. Kabar gembira ini langsung disambut tepuk tangan meriah dari para peneliti yang hadir pada puncak Hakteknas tersebut.
Pada kesempatan tersebut juga diberikan penghargaan untuk Pranata Litbang (Prayogasala) kepada Pusat Litbang PLN, Kopi dan Kakao, serta Badan Litbang Provinsi Jawa Tengah, dan beberapa penghargaan untuk wanita peneliti yang berprestasi di bidang sains dan teknologi. Sejumlah kegiatan pameran juga ditampilkan hasil riset dan inovasi teknologi di tanah air serta produk-produk unggulan dari masing-masing koridor ekonomi yang didukung oleh akademisi, industri dan pemerintah. (JR)

http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/608

Free Download Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 2008



Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ini diterbitkan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008, yang sekarang telah berubah menjadi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Jumlah halaman Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah 1826, bisa dibayangkan tuh, kalau mau ngeprint. 1826 kali lima ratus rupiah, he…he…he…sama juga ama beli buku barunya. Belum lagi beli kertasnya yang hampir empat (4) rim plus pasti tinta juga berkurang.
Bagi rekan-rekan guru dan aga-agan serta siapa saja yang menginginkan file pdf  dari Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI), 2008. Silahkan download DISINI

Kamis, 30 Agustus 2012

UU Sisdiknas Tak Perlu Diamandemen

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat pendidikan Universitas Paramadina, Mohammad Abduhzen menganggap pemerintah tak perlu mengamandemen Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional untuk menggulirkan wajib belajar (wajar) 12 tahun. Pasalnya, dalam UU itu telah disebutkan bahwa wajar 9 tahun sebagai "minimal" pendidikan nasional.

"Sebenarnya wajar 12 tahun itu sejiwa, dan tidak bertentangan jadi sudah memiliki dasar hukum," kata Abduhzen, Kamis (30/8/2012), di Jakarta.

Hal ini disampaikan oleh Abduhzen menanggapi niat pemerintah untuk mengamandemen UU Sisdiknas demi memperoleh payung hukum menggulirkan wajar 12 tahun. Saat ini, wajar 12 tahun telah dirintis melalui program pendidikan menengah universal (PMU) yang istilahnya sengaja digunakan karena pemerintah menilai belum berhak menggunakan kata "wajib belajar" pada pendidikan 12 tahun menyusul belum diatur oleh UU.

Untuk menggolkan rencana ini, pemerintah memulai dengan menggelontorkan dana bantuan operasional sekolah jenjang sekolah menengah (BOSM) yang diperuntukkan bagi siswa SMA. Sumber dana BOSM belum ditetapkan diperoleh dari pos anggaran mana dalam APBN. Akan tetapi kabarnya, anggarannya akan diambil dari dana alokasi umum (DAU).

Dalam pagu indikatif anggaran fungsi pendidikan tahun depan, DAU 2013 menyentuh angka Rp 125 triliun. Namun kemudian diketahui bahwa DAU 2013 hanya memerlukan anggaran sebesar Rp 113 triliun. Itu berarti ada anggaran lebih sebesar Rp 12 triliun.

Rintisan BOSM sudah mulai disalurkan di pertengahan tahun 2012. Unit cost-nya sebesar Rp 120 ribu per anak per tahun. Rintisan BOSM sengaja digelontorkan dalam jumlah kecil untuk melatih dan menguji coba sistem penyalurannya. Setelah dinilai berhasil, mulai 2013 jumlahnya naik dengan signifikan. Yakni mencapai Rp 1 juta per anak per tahun.
http://edukasi.kompas.com

Penyusunan Kerangka Dasar Kurikulum Ditargetkan Tuntas 2013

JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tengah merampungkan naskah kerangka dasar kurikulum pendidikan di Indonesia. Kerangka dasar kurikulum tersebut ditargetkan selesai pada tahun 2013 mendatang.

“Evaluasi terhadap kurikulum pendidikan di Indonesia sudah kami lakukan. Dari hasil evaluasi tersebut, kita sedang menyusun naskah kerangka dasar kurikulum yang nantinya dapat menjadi acuan bagi pendidikan di Indonesia,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Chairil Anwar Notodiputro di Jakarta, Rabu (29/8).

Chairil menjelaskan, kerangka dasar kurikulum tersebut nantinya akan mencakup beberapa mata pelajaran yang dianggap mata pelajaran utama. Antara lain Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia dan Matematika.

”Kami menetapkan empat mata pelajaran tersebut menjadi mata pelajaran utama, karena sifatnya universal. Selain itu, keempat mata pelajaran tersebut dapat dijadikan sebuat alat untuk mempersatukan bangsa dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tukasnya.

Lebih jauh Chairil menambahkan, pemerintah juga membentuk tim independen yang bertugas melakukan evaluasi akhir terhadap naskah kurikulum. Tim tersebut terdiri dari unrus Kemdikbud, Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) dan Perguruan Tinggi.

“Semuanya kita rangkul dan mereka bertugas untuk melakukan evaluasi akhir. Bahkan, mereka juga bisa memberikan masukan untuk lebih mempertajam isi naskah sehingga dapat lebih jelas maksud dan tujuannya,” tutur Chairil. (cha/jpnn)

Daftar Finalis Lomba Karya Tulis Sejarah (LKTS) dan Lomba Karya Komik Sejarah (LKKS) dalam Rangka Pekan Nasional Cinta Sejarah (PENTAS) 2012

Kamis, 12 Januari 2012

Menjangkau Mereka yang Tak Terjangkau

Garis Besar Kebijakan Kemdikbud Tahun 2012

Melanjutkan Arah Kebijakan “Keramahan Sosial” yang Terus diperluas dengan tema:
“Menjangkau Mereka yang Tak Terjangkau”

Beberapa hal dilakukan antara lain:
  1. Membangun Infrastruktur Pendidikan di Wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Terbelakang) -> Membangun Sekolah Berasrama, Termasuk Menyiapkan Guru.
  2. Memperlus Jangkauan Bantuan bagi Siswa dari Keluarga Kurang Mampu (Miskin): Bidik Misi dan Subsdidi Siswa Miskin -> Bukan hanya menambah jumlah anggaran, sebesar Rp 3,9 Triliun, tapi juga menambah target sasran sebanyak 6,1 juta siswa.
  3. Membangun Dua Institut Teknologi Baru di Sumatera dan di Kalimantan.
  4. Perubahan dari Tender ke Swakelola -> Perubahan Besar yang Diharapkan Bukan Saja Dapat Meningkatkan Kualitas Bangunan, tapi Juga untuk Mempraktekkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah).
  5. Memilih Percetakan UN Terseleksi dengan Persyaratan Memiliki Sertifikat “Security Printing”.
  6. Menyiapkan Pembangunan Institut Seni dan Budaya -> Bagian dari Menjalankan Tupoksi Kebudayaan.
  7. Meninggalkan Pendekatan Proporsional ke arah Pendekatan Keadilan (justice)
  8. Dibentuknya BLU untuk Mengelola Dana Abadi Pendidikan untuk Keperluan Pengembangan SDM Pendidikan (Beasiswa)
Sumber: Kemdikbud