Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Desember 2011

Erlinda Wanita 'Perkasa' Pengawal Kereta

Tubuhnya yang kekar memang jadi perhatian tersendiri bagi penumpang di Commuter Line. Dengan seragam putih khas petugas keamanan, kesan garang terlihat di wajah Erlinda Siregar.

Tapi jangan salah, hampir seluruh penumpang yang biasa naik kereta di gerbong khusus wanita mengenal Linda sebagai sosok yang baik dan suka membantu.

Siapa sangka, mulai pukul 03.00 WIB, Linda sudah harus meninggalkan anak, suami dan rumahnya di kawasan Bojong Gede menuju Stasiun Bogor. Sepagi itu dia harus mengikuti apel pasukan. Tepat pukul 04.22 WIB, Linda memulai tugasnya, saat kereta pertama mulai beroperasi.

Linda yang pernah bekerja jadi sales promotion girl (SPG) di swalayan besar terpaksa harus berhenti bekerja karena menikah. Tapi enam bulan lalu, Linda mulai bergabung menjadi petugas keamanan di dalam kereta.

"Ditawari tetangga yang bekerja di PT. KA. Saya yang penting kerja, profesional dan sesuai dengan aturan yang ada," ujar Linda.

Dalam peringatan Hari Ibu, pada Kamis, 22 Desember 2011 kemarin, VIVAnews.com, berbincang dengan Linda di tengah kesibukannya di dalam kereta. Buat Linda, bekerja jadi petugas keamanan di dalam kereta lebih menantang, dan tidak bisa diremehkan. Berlatih fisik dan bela diri harus selalu dilakukan agar tetap bugar. Juga belajar cara-cara disiplin.

"Berfikir positif, kuat mental dan fisik," katanya.

Tetap semangat jadi kunci bagi Linda untuk menjalani kewajibannya menjaga gerbong wanita di Commuter Line agar tetap aman dan terkendali.

"Saya selalu prioritaskan ibu hamil, ibu bawa balita, dan manula untuk duduk. Kalau mereka tidak dapat duduk, saya akan carikan," katanya.

Meski kereta dalam kondisi penuh sesak, Linda tidak pernah mengabaikan kewajibannya. Tidak ada satupun penumpang yang akan dilewatkan untuk diperiksa karcisnya. Komplain penumpang, sampai yang marah kerap ditemuinya.

"Penumpang sering marah, mereka bilang sudah penuh masih jalan-jalan. Saya jawab, mohon maaf ini tugas saya, kalau tidak dijalankan nanti saya salah," katanya.

Tapi Linda tidak pernah merasa sakit hati, menurutnya penumpang adalah raja. Linda selalu berusaha tetap tenang dan memberi penjelasan yang dapat diterima penumpang perempuan di gerbongnya.

Tidak hanya penumpang, Linda juga akan pulang lebih terlambat bila kereta mengalami gangguan. Harapannya untuk bertemu dengan anak dan melayani suami jadi tertunda lama. Tapi demi tugas, semua dijalaninya dengan ikhlas. Lihat foto-foto Erlinda di sini.

Linda punya harapan sendiri di Hari Ibu ini. Kontrak kerjanya yang sudah habis dapat diperpanjang, agar dia dapat terus mengabdi untuk banyak orang. Dengan sepenuh hati dia akan terus mengikuti perubahan perbaikan sistem yang ada di PT Kereta Api.

"Tentu punya harapan di karier. Saya ingin jadi supevisor juga," katanya.

Sumber Artikel

Kamis, 22 Desember 2011

Ibu Negara Republik Indonesia

"Dalam rangka menyambut Hari Ibu, 22 Desember 2011"

Kristiani Herrawati Susilo Bambang Yudhoyono atau lebih dikenal dengan nama Hj. Ani Bambang Yudhoyono. Dia adalah Ibu Negara Indonesia sejak suaminya Dr. Susilo Bambang Yudhoyono dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada tanggal 20 Oktober 2004 sampai sekarang karena Presiden SBY terpilih kembali dalam PEMILU ke 2 tahun 2009. Ani terlahir di Jogjakarta pada tanggal 6 Juli 1952 sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara dari pasangan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo dan Ny. Sunarti Sri Hadiyah.

Ibu Ani menikah dengan Dr. Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 30 Juli 1976 dan hidup dalam 3 generasi kemiliteran yaitu: ayahnya, Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, suami tercintanya, Dr. H. Susilo Bambang Yodhoyono, dan putra tertuanya , Kapten Inf. Agus Harimurti Yudhoyono.

Ibu Ani adalah ibu dari dua orang putra. Putra tertuanya, Kapten Inf. Agus Harimurti Yudhoyono M.Sc, MPA, lahir di Bandung, pada tanggal 10 Agustus 1978. Menikah dengan Annisa Larasati Pohan pada tanggal 9 Juli 2005 dan mempunyai seorang putri bernama Almira Tunggadewi Yudhoyono. Kapten Inf. Agus telah berhasil menyelesaikan pendidikan Masternya di Nanyang University di Singapura, jurusan Pertahanan Strategi dan baru saja menyelesaikan program Master in Public Administration di John F. Kennedy School of Government, Harvard University pada bulan Juni 2010. Putra keduanya Edhie Baskoro Yudhoyono lahir di Bandung, pada tanggal 24 November 1980. Edhie Baskoro lulus sebagai Sarjana Perniagaan dari Universitas Teknologi Curtin, Perth Australia Barat dan juga mempunyai gelar Master in International Political Economic dari Nanyang University di Singapura.

Ibu Ani adalah seorang muslim sejak lahir dan telah menjalankan ibadah haji serta umroh beberapa kali. Dalam mendidik anaknya, Ani menerapkan kehidupan yang Islami, yaitu bekerja keras, disiplin dan jujur dengan semboyan "Manusia boleh merencanakan, tapi Tuhanlah yang menentukan".

Dikutip dari: http://www.presidenri.go.id/ibunegara/index.php/statik/profil/

Selasa, 20 Desember 2011

Fatmawati istri Soekarno

Fatmawati yang bernama asli Fatimah (lahir di Bengkulu, 5 Februari 1923 – meninggal di Kuala Lumpur, Malaysia, 14 Mei 1980 pada umur 57 tahun) adalah istri dari Presiden Indonesia pertama Soekarno. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia pertama dari tahun 1945 hingga tahun 1967 dan merupakan istri ke-3 dari Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Ia juga dikenal akan jasanya dalam menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang turut dikibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945.
Fatmawati lahir dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadijah. Orang tuanya merupakan keturunan Puti Indrapura, salah seorang keluarga raja dari Kesultanan Indrapura, Pesisir Selatan. Ayahnya merupakan salah seorang tokoh Muhammadiyah di Bengkulu.
Pada tanggal 1 Juni 1943, Fatmawati menikah dengan Soekarno, yang kelak menjadi presiden pertama Indonesia. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai lima orang putra dan putri, yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.
Makam Fatmawati di TPU Karet Bivak, Jakarta
Pada tahun 14 Mei 1980 ia meninggal dunia karena serangan jantung ketika dalam perjalanan pulang umroh dari Mekah yang lalu dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Fatmawati

Senin, 19 Desember 2011

Neno Warisman

Hj. Titi Widoretno Warisman lebih akrab dipanggil Neno Warisman (lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 21 Juni 1964; umur 47 tahun) dulunya adalah penyanyi dan bintang film era 1980-an. Sekarang, Neno aktif di dunia sosial dan pendidikan, terutama pengasuhan, peran ibu dan peran
Sejak kecil Neno telah menunjukkan kesukaannya pada puisi dan deklamasi. Bahkan pada tahun 1978, Neno terpilih sebagai juara baca puisi se-Jakarta. Neno pun melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra Perancis Universitas Indonesia.
Neno terkenal sebagai penyanyi di era 80-an. Lagu Neno banyak yang terkenal hingga kini, seperti lagu "Matahariku",[1] begitu pun duetnya dengan Fariz RM, "'Nada Kasih", dan juga lagu religi "A Ba Ta Tsa".
Sebagai pemain film, Neno terkenal karena aktingnya sebagai Sayekti di film Sayekti dan Hanafi yang ditayangkan TVRI dan disutradarai oleh Irwinsyah. Selain itu, Neno juga pernah bermain dalam film Semua Sayang Kamu (1989) yang masuk dalam nominasi Aktris Terbaik Festival Film Indonesia 1989. Tahun 2005, Neno bermain dalam film garapan Garin Nugroho Rindu Kami PadaMu (2005). Film ini meraih penghargaan sebagai film terbaik Asia di Osian’s Cinefan Festival ke-7 di New Delhi, India, yang berlangsung 16-24 Juli 2005.[2]
Pada tahun 1991, Neno memutuskan untuk memakai jilbab dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk dunia sosial dan pendidikan serta aktif membantu sosialisasi program Pendidikan Anak Dini Usia (PAUD) Departemen Pendidikan Nasional. Sering diundang untuk berbicara di seminar-seminar para ibu. Berbicara terutama tentang pengasuhan anak yang benar, pendidikan negeri, dan kesehatan.
Pada ulang tahunnya yang ke-40, 21 Juni 2004, Penerbit Syaamil menerbitkan buku Neno bertajuk Izinkan Aku Bertutur. Tahun 2006, dengan penerbit yang sama, Neno merilis buku berjudul Matahari Odi Bersinar Karena Maghfi. Buku pertama dari trilogi opera keluarga ini adalah sebuah refleksi batin yang tulus dan amat mendalam dari seorang Neno Warisman tentang keajaiban keajaiban jiwa yang ia alami dan saksikan dari anak anaknya yang menggemaskan, smart, aktif dan shalih.[3]
Pada bulan juni 2008 memulai kampanye "PMM", pola makan yang menyelamatkan.
Neno menikah dengan Ahmad Widiono Doni Wiratmoko dan memiliki 3 orang anak; Zaka, Maghfira, dan Ramadhani.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Neno_Warisman

Minggu, 18 Desember 2011

Gadis India Pecahkan Rekor Manusia Terpendek

Seorang siswa SMU di India diakui sebagai wanita terpendek di dunia. Ia tercatat di Guiness Book Records pada Jumat, (16/12) saat genap berusia 18 tahun.
Jyoti Amge memiliki tinggi 62,8 cm. Tinggi badannya lebih pendek dibandingkan dengan rata-rata anak yang berusia dua tahun. Pemberian gelar ini diberikan oleh perwakilan Guinnes dari London. Tubuh Amge diukur saat ia merayakan ulang tahun yang dihadiri sekitar 30 kerabat di Kota Nagpur, Negara Bagian Maharashtra.
Ia menganggap pencatatan namanya di Guiness Book membuat masyarakat dunia jadi mengetahui letak Kota Nagpur. "Saya telah menempatkan Nagpur di peta dunia. Sekarang semua orang akan tahu di mana itu (Nagpur)," kata Amge.
Ia merasa dicatatnya namanya di Guiness Book sebagai hadiah tambahan yang ia terima di hari bahagianya kali ini. Ia bersyukur meski badannya kecil, kehadirannya tetap diakui bahkan mendapatkan penghargaan.
Hal yang ingin dilakukannya setelah ini adalah melanjutkan kuliah dan memperoleh gelar akademik. Ia ingin menjadi aktris Bollywood. "Saya ingin menjadi seniman," ujar dia.
Tinggi badan Amge mengalahkan rekor manusia terpendek yang sebelumnya dipegang oleh Bridgette Jordan, seorang warga Amerika. Amge lebih pendek 7 cm (2,76 inci) dari pria berusia 22 tahun itu. "Jyoti (Amge) mengingatkan kita semua bahwa ukuran tubuh bukan sebagai alasan untuk mencari perbedaan," kata perwakilan dari Guiness, Rob Molloy.
Selama dua tahun, tinggi badan Amge bertambah kurang dari 1 cm. Guiness mengatakan Amge akan sulit untuk menambah tinggi badannya karena mengalami kekerdilan yang disebut achondroplasia.
Atas pencatatan rekor ini, Amge juga mendapatkan hadiah ulang tahun lain. Ia berkesempatan untuk berlibur ke Jepang dan Italia bersama pemegang rekor yang lain. Sebelumnya, wanita terpendek dinobatkan kepada Pauline Musters. Ia hidup pada tahun 1876-1895 dan memiliki tinggi badan 61 cm.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/senggang/unik/11/12/17/lwcsq5-gadis-india-pecahkan-rekor-manusia-terpendek

Sabtu, 17 Desember 2011

Riwayat Singkat Raden Ajeng Kartini

Sewaktu RA Kartini dilahirkan, ayahnya masih berkedudukan sebagai Wedono Mayong, sedangkan ibunya adalah seorang wanita berasal dari desa Teuk Awur yaitu Mas Ajeng Ngasirah yang berstatus garwo Ampil. RMAA Sosroningrat dan urutan keempat dari ibu kandung Mas Ajeng Ngasirah, sedangkan eyang RA Kartini dari pihak ibunya adalah seorang Ulama Besar pada jaman itu bernama Kyai Haji Modirono dan Hajjah Siti Aminah. Istri kedua ayahnya yang berstatus garwo padmi adalah putrid bangsawan yang dikawini pada tahun 1875 keturunan langsung bangsawan tinggi madura yaitu raden ajeng Woeryan anak dari RAA Tjitrowikromo yang memegang jabatan Bupati Jepara sebelum RMAA Sosroningrat. Perkawinan dari kedua istrinya itu telah membuahkan putera sebanyak 11 (sebelas) orang.
Mula pertama udara segar yang dihirup RA KArtini adalah udara desa yaitu sebuah desa di Mayong yang terletak 22 km sebelum masuk jantung kota Jepara. Disinilah nia dilahirkan oleh seorang ibu dari kalangan rakyat biasa yang dijadikan garwo ampil oleh wedono Mayong RMAA Sosroningrat. Anak yang lahir itu adalah seorang bocah kecil dengan mata bulat berbinar-binar memancarkan cahaya cemerlang seolah menatap masa depan yang penuh tantangan.
Hari demi hari beliau tumbuh dalam suasana gembira, dia ingin bergerak bebas, berlari kian kemari, hal yang menarik baginya ia lakukan meskipun dilarang. Karena kebebasan dan kegesitannya bergerak ia mendapat julukan “TRINIL” dari ayahnya. Kemudian setelah kelahiran RA Kartini yaitu pada tahun 1880 lahirlah adiknya RA Roekmini dari garwo padmi. Pada tahun 1881 RMAA Sosroningrat diangkat sebagai Bupati Jepara dan beliau bersama keluarganya pindah ke rumah dinas Kabupaten di Jepara.
Pada tahun yang sama lahir pula adiknya yang diberi nama RA Kardinah sehingga si trinil senang dan genbira dengan kedua adiknya sebagai teman bermain. Lingkungan Pendopo Kabupaten yang luas lagi megah itu semakin memberikan kesempatan bagi kebebasan dan kegesitan setiap langkah RA Kartini.
Sifat serba ingin tahu RA Kartini inilah yang mrnjadikan orang tuanya semakin memperhatikan perkembangan jiwanya. Memang sejak semula RA Kartini paling cerdas dan penuh inisiatif dibandingkan dengan saudara perempuan lainnya. Dengan sifat kepemimpinan RA Kartini yang menyolok, jarang terjadi perselisihan diantara mereka bertiga yang dikenal dengan nama “TIGA SERANGKAI” meskipun dia agak diistimewakan dari yang lain.
Agar puterinya lebih mengenal daerah dan rakyatnya RMAA Sosroningrat sering mengajak ketiga puterinya tourney dengan menaiki kereta.
Ini semua hanya merupakan pendekatan secara terarah agar puterinya kelak akan mencintai rakyat dan bangsanya, sehingga apa yang dilihatnya dapat tertanam dalam ingatan RA Kartini danadik-adiknya serta dapat mempengaruhi pandangan hidupnya setelah dewasa.
Saat mulai menginjak bangku sekolah “EUROPESE LAGERE SCHOOL” terasa bagi RA Kartini sesuatu yang menggembirakan. Karena sifat yang ia miliki dan kepandaiannya yang menonjol RA Kartini cepat disenangi teman-temannya. Kecerdasan otaknya dengan mudah dapat menyaingi anak-anak Belanda baik pria maupun wanitanya, dalam bahasa Belanda pun RA Kartini dapat diandalkan.
Menjelang kenaikan kelas di saat liburan pertama, NY. OVINK SOER DAN SUAMINYA MENGAJAK ra Kartini beserta adik-adiknya Roekmini dan Kardinah menikmati keindahan pantai bandengan yang letaknya 7 km ke Utara Kota Jepara, yaitu sebuah pantai yang indah dengan hamparan pasir putih yang memukau sebagaimana yang sering digambarkan lewat surat-suratnya kepada temannya Stella di negeri Belanda. RA Kartini dan kedua adiknya mengikuti Ny. Ovink Soer mencari kerang sambil berkejaran menghindari ombak, kepada RA Kartini ditanyakan apa nama pantai tersebut dan dijawab dengan singkat yaitu pantai Bandengan.
Kemudian Ny. Ovink Soer mengatakan bahwa di Holland pun ada sebuah pantai yang hamper sama dengan bandengan namanya “Klein Scheveningen” secara spontan mendengar itu RA Kartini menyela……..kalau begitu kita sebut saja pantai bandengan ini dengan nama Klein Scheveningen”.
Selang beberapa tahun kemudian setelah selesai pendidikan di EUROPASE LEGERE SCHOOL, RA Kartini berkehendak ke sekolah yang lebih tinggi, namun timbul keraguan di hati RA Kartini karena terbentur pada aturan adapt apalagi bagi kaum ningrat bahwa wanita seperti dia harus menjalani pingitan.
Memang sudah saatnya RA Kartini memasuki masa pingitan karena usianya telah mencapai 12 tahun lebih, ini semua demi keprihatinan dan kepatuhan kepada tradisi ia harus berpisah pada dunia luar dan terkurung oleh tembok Kabupaten. Dengan semangat dan keinginannya yang tak kenal putus asa RA Kartini berupaya menambah pengetahuannya tanpa sekolah karena menyadari dengan merenung dan menangis tidaklah akan ada hasilnya, maka satu-satunya jalan untuk menghabiskan waktu adalah dengan tekun membaca apa saja yang di dapat dari kakak dan juga dari ayahnya.
Beliau pernah juga mengajukan lamaran untuk sekolah dengan beasiswa ke negeri Belanda dan ternyata dikabulkan oleh Pemerintah Hindia Belanda, hanya saja dengan berbagai pertimbangan maka besiswa tersebut diserahkan kepada putera lainnya yang namanya kemudian cukup terkenal yaitu H. Agus Salim.
Walaupun RA Kartini tidak berkesempatan melanjutkan sekolahnya, namun himpunan murid-murid pertama Kartini yaitu sekolah pertama gadis-gadis priyayi Bumi Putera telah dibina diserambi Pendopo belakang kabupaten. Hari itu sekolah Kartini memasuki pelajaran apa yang kini dikenal dengan istilah Krida dimana RA Kartini sedang menyelesaikan lukisan dengan cat minyak. Murid-murid sekolahnya mengerjakan pekerjaan tangan masing-masing, ada yang menjahit dan ada yang membuat pola pakaian.
Adapun Bupati RMAA Sosroningrat dan Raden Ayu tengah menerima kedatangan tamu utusan yang membawa surat lamaran dari Bupati Rembang Adipati Djojoadiningrat yang sudah dikenal sebagai Bupati yang berpandangan maju dan modern. Tepat tanggal 12 November 1903 RA Kartini melangsungkan pernikannya dengan Bupati Rembang Adipati Djojodiningrat dengan cara sederhana.
Pada saat kandungan RA Kartini berusia 7 bulan, dalam dirinya dirasakan kerinduan yang amat sangat pada ibunya dan Kota Jepara yang sangat berarti dalam kehidupannya. Suaminya telah berusaha menghiburnya dengan musik gamelan dan tembang-tembang yang menjadi kesayangannya, namun semua itu membuat dirinya lesu.
Pada tanggal 13 September 1904 RA Kartini melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Singgih/RM. Soesalit. Tetapi keadaan RA Kartini semakin memburuk meskipun sudah dilakukan perawatan khusus, dan akhirnya pada tanggal 17 September 1904 RA Kartini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia 25 tahun.
Kini RA Kartini telah tiada, cita-cita dan perjuangannya telah dapat kita nikmati, kemajuan yang telah dicapai kaum wanita Indonesia sekarang ini adalah berkat goresan penanya semasa hidup yang kita kenal dengan buku “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG”.

Sumber Artikel: http://www.jeparakab.go.id